Wednesday, October 13, 2010

Perjalanan Sastra tanpa Jejak Bahasa

Edy A Effendi
http://www.infoanda.com/Republika

Perjalanan sastra Indonesia dalam kurun waktu 2007 tidak mampu meninggalkan jejak kebahasaan yang cukup berarti bagi pertumbuhan sastra Indonesia. Jejak kebahasaan ini menjadi penting karena fakta-fakta sejarah yang lurus harus dibangun atas keselarasan antara bahasa dan pikiran. Seperti kata Roger Trigg, berpikir tidak mungkin dipisahkan dari bahasa, dan adanya perbedaan bahasa akan melahirkan perbedaan produk pemikiran.

Untuk membangun keselarasan antara bahasa dan produk pemikiran, para sastrawan harus bergumul secara intens dengan dunia bahasa dan tidak serta merta melahirkan karya tanpa mau menjenguk ceruk-ceruk kebahasaan yang paling dalam. Hanya beberapa buku sastra yang bisa dijenguk keseriusannya mencari bahasa sebagai jangkar kreativitasnya. Sebutlah kumpulan cerita pendek Gus tf Sakai, Perantau (GPU, 2007), dan antologi puisi Zen Hae, Paus Merah Jambu (Akar, 2007).

Pergumulan secara intens dengan hutan rimba bahasa itulah, yang seringkali dipinggirkan sebagian kalangan sastra. Dalam wilayah sastra, khususnya puisi, bahasa menjadi satu kekuatan sentral dan menjadi satu gema untuk menciptakan kembali keberadaan dan kesadaran yang lebih tinggi dalam diri manusia.

Dari sudut pandang yang lain, maraknya antologi puisi yang bertebaran, tidak mampu membangun semangat kerja baru dalam wilayah puisi, terutama dalam menerapkan konsep estetika kata sebagai bagian dari proses kerja kreatif kepenyairan seseorang. Maka, ketika sebuah antologi terjebak dalam lingkaran wilayah kata yang dekaden, tradisi penulisan puisi yang dihibahkan dalam sebuah antologi, tidak lagi bersandar pada kekuatan kata dan berbagai varian yang berdiri di balik rimba kata.

Pada dataran itu, puisi kehilangan ruh, sugesti dan daya pikat sebagai wacana fiksi yang berfungsi memperkaya kata. Dan, akhirnya menjadi benar, sindiran yang pernah dilempar ke kubu penyair, bahwa bahasa yang ada masih seperti sebuah dusun datar yang baru saja dihuni para transmigran — lokasi yang diancam wabah, perdu yang dihampiri hama.

Situasi serupa juga menimpa tradisi penulisan cerita pendek. Cerita-cerita yang berhamburan di berbagai sudut media massa atau di berbagai ranah toko buku sepajang 2007 tak ubahnya jajaran cerita yang bisa disantap dengan sekejap. Ia tak mampu membangun monumen kebahasaan secara ajeg, utuh dan runut. Sebuah monumen kebahasaan yang sejatinya menghadirkan bahasa ibarat ruh atau inspirasi yang hidup dan bergerak dalam tubuh sang kreator.

Saya menemukan beberapa karya prosa pada kurun 2006-2007, jika dilacak dari sisi tapak kebahasaan, tidak cukup kuat membangun keselarasan teks dan konteks, bahkan tak cukup cermat memainkan kata-kata atau substansi bahasa dalam wilayah teks. Lihatlah prosa Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (Akmal Nasery Basral, Ufuk, 2006), Dunia di Kepala Alice (Ucu Agustin, GPU, 2006), Edensor (Andrea Hirata, Bentang Pustaka, 2007), Galigi (Gunawan Maryanto, Koekoesan, 2007), Janda dari Jirah (Cok Sawitri, GPU, 2007), Linguae (Seno Gumira Ajidarma, GPU, Maret 2007), Mahasati (Qaris Tajudin, Akoer, 2007), Bulan Jingga dalam Kepala (M Fadjroel Rahman, RPU, 2007), September (Noorca M Massardi, Tiga Serangkai, 2006), dan Sintren (Dianing Widya, Grasindo, 2007).

Di tepi lain, saya menemukan karya-karya puisi yang terbit pada kurun 2006-2007, di mana penyair seringkali membiarkan sajak dengan tidak terlampau urut, terang dan padu, sehingga tidak mampu memberi vibrasi yang besar terhadap perkembangan bahasa. Lihat saja buku puisi Angsana (Soni Farid Maulana, Ultimus, 2007), Bau Betina (Binhad Nurrohmat, I:BOEKOE, 2007), Dongeng untuk Poppy (M Fadjroel Rahman, Bentang, 2007), Jam-Jam Gelisah (Todung Mulya Lubis, GPU, 2006), Kepada Cium (Joko Pinurbo, 2007), Laut Akhir (Isbedy Stiawan ZS, Bukupop, 2007), Menjadi Penyair Lagi (Acep Zamzam Noor, Pustaka Azan, 2007), Notasi Pendosa (Acep Iwan Saidi, LKiS, 2007), dan Tamsil Tubuh yang Terbelah (Amien Kamil, MataAngin, 2007).

Kultur lokal

Pada prosa Perantau Gus tf Sakai, misalnya, pengarang seharusnya bisa lebih menstimulir persoalan kelokalan dengan berpijak pada kultur Melayu sebagai akar bahasa Indonesia. Sayangnya, Gus tf tidak sepenuhnya mengambil setting lokal sebagai kosmologi penceritaan yang utuh.

Kasus serupa juga menimpa Zen Hae dengan kumpulan puisi Paus Merah Jambu. Penyair yang lahir dari kultur Betawi ini mengambil isu lokalitas hanya pada ruang penceritaan dan dialog yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh dalam puisinya. Ia tidak menggarap secara lengkap potret lokalitas dari termin kebahasaan.

Pada titik ini, Sakai dan Hae, berhasil pada kemampuan memainkan irama kata pada teks yang disebar ke publik, tapi gagal mengambil lokalitas dari traktat kebahasaan. Saya menangkap upaya pencarian kebahasaan dengan bersandar pada kekuatan lokal adalah upaya ekstrim yang seharusnya dikembangkan pengarang, agar mampu mengambil identitas kebahasaan yang jelas.

Di tempat yang berbeda, kumpulan puisi Bau Betina Binhad Nurrohmat pun hanya terampil memainkan kata dengan melakukan penggemparan makna di berbagi sudut puisinya. Ia, dengan kredo penulisannya, berupaya mengolah diri dengan mencari kemungkinan-kemungkinan bentuk, cara, atau teknik alternatif untuk mengucapkan kenyataan.

Sedangkan bergerak untuk merambah wilayah baru adalah upaya menjamah realitas yang sebelumnya tak tergarap atau masih tergarap sepintas lalu, misalnya kekotaan, mitos lokal, seks dan tubuh. Sastra Indonesia mutakhir tampaknya cenderung memasuki wilayah-wilayah mikro dengan cara ucap yang masih terus bergulat mencari bentuk.

Binhad masih terjebak pada kubangan wilayah mikro dengan cara ucap yang masih melingkar-lingkar pada upaya pencarian bentuk, bukan pencarian dari ranah kebahasaan. Semestinya pengarang harus mampu mengambil setting lokal sebagai basis reproduksi penciptaan. Sebuah problem untuk melakukan sinergi dengan peristiwa di luar teks.

Jika sinergi itu tidak dikerjakan dengan tepat, penulisan setting lokal atau kultur lokal, akan terjebak pada penulisan fiksi yang ber-kiblat pada sejarah. Penulisan fiksi, penulisan sejarah dan peristiwa sejarah adalah beberapa hal yang memiliki kaidah penceritaan yang berbeda.

Selama ini, penulisan sejarah di bangku-bangku pendidikan menjadi terdistori dan cenderung menyesatkan. Atau mungkin benar apa yang pernah dipaparkan Clifford Geertz, bahwa kehidupan sosial manusia tidak bisa keluar dari jaringan nilai dan makna yang mereka rajut sendiri yang kemudian terabaikan dalam kultur.

Pada akhirnya, bahasa bukan sekadar alat ucap para kreator dalam memproduksi kata-kata di dalam teks. Ia tak ubahnya jembatan pengarang dalam melakukan pencarian identitas kebahasaan. Di ranah ini, para pengarang yang melahirkan karya pada kurun 2007 tak memperlihatkan keseriusannya dalam mengelola bahasa.

*) Dosen sastra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Perjalanan Sastra tanpa Jejak Bahasa

Edy A Effendi
http://www.infoanda.com/Republika

Perjalanan sastra Indonesia dalam kurun waktu 2007 tidak mampu meninggalkan jejak kebahasaan yang cukup berarti bagi pertumbuhan sastra Indonesia. Jejak kebahasaan ini menjadi penting karena fakta-fakta sejarah yang lurus harus dibangun atas keselarasan antara bahasa dan pikiran. Seperti kata Roger Trigg, berpikir tidak mungkin dipisahkan dari bahasa, dan adanya perbedaan bahasa akan melahirkan perbedaan produk pemikiran.

Untuk membangun keselarasan antara bahasa dan produk pemikiran, para sastrawan harus bergumul secara intens dengan dunia bahasa dan tidak serta merta melahirkan karya tanpa mau menjenguk ceruk-ceruk kebahasaan yang paling dalam. Hanya beberapa buku sastra yang bisa dijenguk keseriusannya mencari bahasa sebagai jangkar kreativitasnya. Sebutlah kumpulan cerita pendek Gus tf Sakai, Perantau (GPU, 2007), dan antologi puisi Zen Hae, Paus Merah Jambu (Akar, 2007).

Pergumulan secara intens dengan hutan rimba bahasa itulah, yang seringkali dipinggirkan sebagian kalangan sastra. Dalam wilayah sastra, khususnya puisi, bahasa menjadi satu kekuatan sentral dan menjadi satu gema untuk menciptakan kembali keberadaan dan kesadaran yang lebih tinggi dalam diri manusia.

Dari sudut pandang yang lain, maraknya antologi puisi yang bertebaran, tidak mampu membangun semangat kerja baru dalam wilayah puisi, terutama dalam menerapkan konsep estetika kata sebagai bagian dari proses kerja kreatif kepenyairan seseorang. Maka, ketika sebuah antologi terjebak dalam lingkaran wilayah kata yang dekaden, tradisi penulisan puisi yang dihibahkan dalam sebuah antologi, tidak lagi bersandar pada kekuatan kata dan berbagai varian yang berdiri di balik rimba kata.

Pada dataran itu, puisi kehilangan ruh, sugesti dan daya pikat sebagai wacana fiksi yang berfungsi memperkaya kata. Dan, akhirnya menjadi benar, sindiran yang pernah dilempar ke kubu penyair, bahwa bahasa yang ada masih seperti sebuah dusun datar yang baru saja dihuni para transmigran — lokasi yang diancam wabah, perdu yang dihampiri hama.

Situasi serupa juga menimpa tradisi penulisan cerita pendek. Cerita-cerita yang berhamburan di berbagai sudut media massa atau di berbagai ranah toko buku sepajang 2007 tak ubahnya jajaran cerita yang bisa disantap dengan sekejap. Ia tak mampu membangun monumen kebahasaan secara ajeg, utuh dan runut. Sebuah monumen kebahasaan yang sejatinya menghadirkan bahasa ibarat ruh atau inspirasi yang hidup dan bergerak dalam tubuh sang kreator.

Saya menemukan beberapa karya prosa pada kurun 2006-2007, jika dilacak dari sisi tapak kebahasaan, tidak cukup kuat membangun keselarasan teks dan konteks, bahkan tak cukup cermat memainkan kata-kata atau substansi bahasa dalam wilayah teks. Lihatlah prosa Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (Akmal Nasery Basral, Ufuk, 2006), Dunia di Kepala Alice (Ucu Agustin, GPU, 2006), Edensor (Andrea Hirata, Bentang Pustaka, 2007), Galigi (Gunawan Maryanto, Koekoesan, 2007), Janda dari Jirah (Cok Sawitri, GPU, 2007), Linguae (Seno Gumira Ajidarma, GPU, Maret 2007), Mahasati (Qaris Tajudin, Akoer, 2007), Bulan Jingga dalam Kepala (M Fadjroel Rahman, RPU, 2007), September (Noorca M Massardi, Tiga Serangkai, 2006), dan Sintren (Dianing Widya, Grasindo, 2007).

Di tepi lain, saya menemukan karya-karya puisi yang terbit pada kurun 2006-2007, di mana penyair seringkali membiarkan sajak dengan tidak terlampau urut, terang dan padu, sehingga tidak mampu memberi vibrasi yang besar terhadap perkembangan bahasa. Lihat saja buku puisi Angsana (Soni Farid Maulana, Ultimus, 2007), Bau Betina (Binhad Nurrohmat, I:BOEKOE, 2007), Dongeng untuk Poppy (M Fadjroel Rahman, Bentang, 2007), Jam-Jam Gelisah (Todung Mulya Lubis, GPU, 2006), Kepada Cium (Joko Pinurbo, 2007), Laut Akhir (Isbedy Stiawan ZS, Bukupop, 2007), Menjadi Penyair Lagi (Acep Zamzam Noor, Pustaka Azan, 2007), Notasi Pendosa (Acep Iwan Saidi, LKiS, 2007), dan Tamsil Tubuh yang Terbelah (Amien Kamil, MataAngin, 2007).

Kultur lokal

Pada prosa Perantau Gus tf Sakai, misalnya, pengarang seharusnya bisa lebih menstimulir persoalan kelokalan dengan berpijak pada kultur Melayu sebagai akar bahasa Indonesia. Sayangnya, Gus tf tidak sepenuhnya mengambil setting lokal sebagai kosmologi penceritaan yang utuh.

Kasus serupa juga menimpa Zen Hae dengan kumpulan puisi Paus Merah Jambu. Penyair yang lahir dari kultur Betawi ini mengambil isu lokalitas hanya pada ruang penceritaan dan dialog yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh dalam puisinya. Ia tidak menggarap secara lengkap potret lokalitas dari termin kebahasaan.

Pada titik ini, Sakai dan Hae, berhasil pada kemampuan memainkan irama kata pada teks yang disebar ke publik, tapi gagal mengambil lokalitas dari traktat kebahasaan. Saya menangkap upaya pencarian kebahasaan dengan bersandar pada kekuatan lokal adalah upaya ekstrim yang seharusnya dikembangkan pengarang, agar mampu mengambil identitas kebahasaan yang jelas.

Di tempat yang berbeda, kumpulan puisi Bau Betina Binhad Nurrohmat pun hanya terampil memainkan kata dengan melakukan penggemparan makna di berbagi sudut puisinya. Ia, dengan kredo penulisannya, berupaya mengolah diri dengan mencari kemungkinan-kemungkinan bentuk, cara, atau teknik alternatif untuk mengucapkan kenyataan.

Sedangkan bergerak untuk merambah wilayah baru adalah upaya menjamah realitas yang sebelumnya tak tergarap atau masih tergarap sepintas lalu, misalnya kekotaan, mitos lokal, seks dan tubuh. Sastra Indonesia mutakhir tampaknya cenderung memasuki wilayah-wilayah mikro dengan cara ucap yang masih terus bergulat mencari bentuk.

Binhad masih terjebak pada kubangan wilayah mikro dengan cara ucap yang masih melingkar-lingkar pada upaya pencarian bentuk, bukan pencarian dari ranah kebahasaan. Semestinya pengarang harus mampu mengambil setting lokal sebagai basis reproduksi penciptaan. Sebuah problem untuk melakukan sinergi dengan peristiwa di luar teks.

Jika sinergi itu tidak dikerjakan dengan tepat, penulisan setting lokal atau kultur lokal, akan terjebak pada penulisan fiksi yang ber-kiblat pada sejarah. Penulisan fiksi, penulisan sejarah dan peristiwa sejarah adalah beberapa hal yang memiliki kaidah penceritaan yang berbeda.

Selama ini, penulisan sejarah di bangku-bangku pendidikan menjadi terdistori dan cenderung menyesatkan. Atau mungkin benar apa yang pernah dipaparkan Clifford Geertz, bahwa kehidupan sosial manusia tidak bisa keluar dari jaringan nilai dan makna yang mereka rajut sendiri yang kemudian terabaikan dalam kultur.

Pada akhirnya, bahasa bukan sekadar alat ucap para kreator dalam memproduksi kata-kata di dalam teks. Ia tak ubahnya jembatan pengarang dalam melakukan pencarian identitas kebahasaan. Di ranah ini, para pengarang yang melahirkan karya pada kurun 2007 tak memperlihatkan keseriusannya dalam mengelola bahasa.

*) Dosen sastra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Puisi Amir Hamzah Bukan Sastra Sufi

Kurniawan
http://www.tempointeraktif.com/

Meskipun selama ini puisi-puisi sastrawan Pujangga Baru, Amir Hamzah, sering dimasukkan sebagai karya sufistik, pengamat sastra Arief Bagus Prasetyo cenderung menolaknya.

“Amir Hamzah bahkan dimasukkan dalam antologi sastra sufi yang disusun oleh Abdul Hadi W.M.. Tapi, menurut saya, Amir Hamzah menjadi satu-satunya pengarang yang bukan sufi dalam antologi itu,” kata Arif dalam diskusi “Mendaras Amir Hamzah” di Freedom Institute, Jakarta, Kamis (24/6) malam. Acara yang dipandu Nirwan Dewanto itu juga menghadirkan Sapardi Djoko Damono sebagai pembicara.

Buku Sastra Sufi: Sebuah Atologi karya Abdul Hadi itu memuat karya-karya penyair mistikus dan filsuf Islam terkemuka, seperti Jalaludin Rumi, Al-Hallaj, Rabiah Al-Adawiyah, Hamzah Fansuri, Yasadipura I, Yasadipura II dan Raja Ali Haji.

Arif juga mengutip pandangan Goenawan Mohamad yang menekankan keresahan Amir Hamzah dalam hubungannya dengan Tuhan sebagai masalah pokok dalam karya Amir. A Teeuw, kata Arif, juga mengakui hubungan Amir dengan kesastraan sufi.

Namun, Arif menunjukkan bahwa ada kontras yang nyata antara puisi sufistik dan puisi Amir. Dia mengutip “Syair Perahu” karya Hamzah Fansuri yang menyatakan “Hamba dan Tuhan tiada berbeda sebagai ekspresi persatuan penuh antara Tuhan dan manusia. Tapi, puisi “Turun Kembali” karya Amir justru mempertanyakan persatuan mistis itu (”Adakah begini jadinya/aku hamba engkau penghulu”) dan kemudian disangkal (”Aku dan engkau berlainan”).

Menurut Arif, kumpulan puisi Nyanyi Sunyi karya Amir mengantisipasi lahirnya puisi-puisi yang disebut Afrizal Malna berspirit “teologi-tanpa-bersama-dewa” dalam khazanah sastra Indonesia. Sejak Amir, terbentang jalan panjang kesunyian teologis, suatu kontinum religiusitas penuh luka, yang dilalui banyak penyair, seperti Chairil Anwar, Surtardji Calzoum Bachri, dan Acep Zamzam Noor.

Adapun Sapardi menampilkan puisi Amir Hamzah sebagai puisi gelap. “Bukan karena puisi Amir sukar dipahami karena belum menguasai sepenuhnya bahasa Indonesia, tapi justru oleh penguasaan tingkat tinggi,” kata penyair yang puisinya paling sering dikutip di kartu undangan perkawinan itu.

Sapardi mencontohkan puisi “Hanya Satu” karya Amir yang dimuat dalam antologi sajak “Puisi Baru” yang disusun Sutan Takdir Alisjahbana. Takdir merasa perlu memberi 10 catatan kaki untuk puisi itu, terutama untuk arti kata yang dianggap sulit oleh pembaca karena arkhaik.

Puisi Amir Hamzah Bukan Sastra Sufi

Kurniawan
http://www.tempointeraktif.com/

Meskipun selama ini puisi-puisi sastrawan Pujangga Baru, Amir Hamzah, sering dimasukkan sebagai karya sufistik, pengamat sastra Arief Bagus Prasetyo cenderung menolaknya.

“Amir Hamzah bahkan dimasukkan dalam antologi sastra sufi yang disusun oleh Abdul Hadi W.M.. Tapi, menurut saya, Amir Hamzah menjadi satu-satunya pengarang yang bukan sufi dalam antologi itu,” kata Arif dalam diskusi “Mendaras Amir Hamzah” di Freedom Institute, Jakarta, Kamis (24/6) malam. Acara yang dipandu Nirwan Dewanto itu juga menghadirkan Sapardi Djoko Damono sebagai pembicara.

Buku Sastra Sufi: Sebuah Atologi karya Abdul Hadi itu memuat karya-karya penyair mistikus dan filsuf Islam terkemuka, seperti Jalaludin Rumi, Al-Hallaj, Rabiah Al-Adawiyah, Hamzah Fansuri, Yasadipura I, Yasadipura II dan Raja Ali Haji.

Arif juga mengutip pandangan Goenawan Mohamad yang menekankan keresahan Amir Hamzah dalam hubungannya dengan Tuhan sebagai masalah pokok dalam karya Amir. A Teeuw, kata Arif, juga mengakui hubungan Amir dengan kesastraan sufi.

Namun, Arif menunjukkan bahwa ada kontras yang nyata antara puisi sufistik dan puisi Amir. Dia mengutip “Syair Perahu” karya Hamzah Fansuri yang menyatakan “Hamba dan Tuhan tiada berbeda sebagai ekspresi persatuan penuh antara Tuhan dan manusia. Tapi, puisi “Turun Kembali” karya Amir justru mempertanyakan persatuan mistis itu (”Adakah begini jadinya/aku hamba engkau penghulu”) dan kemudian disangkal (”Aku dan engkau berlainan”).

Menurut Arif, kumpulan puisi Nyanyi Sunyi karya Amir mengantisipasi lahirnya puisi-puisi yang disebut Afrizal Malna berspirit “teologi-tanpa-bersama-dewa” dalam khazanah sastra Indonesia. Sejak Amir, terbentang jalan panjang kesunyian teologis, suatu kontinum religiusitas penuh luka, yang dilalui banyak penyair, seperti Chairil Anwar, Surtardji Calzoum Bachri, dan Acep Zamzam Noor.

Adapun Sapardi menampilkan puisi Amir Hamzah sebagai puisi gelap. “Bukan karena puisi Amir sukar dipahami karena belum menguasai sepenuhnya bahasa Indonesia, tapi justru oleh penguasaan tingkat tinggi,” kata penyair yang puisinya paling sering dikutip di kartu undangan perkawinan itu.

Sapardi mencontohkan puisi “Hanya Satu” karya Amir yang dimuat dalam antologi sajak “Puisi Baru” yang disusun Sutan Takdir Alisjahbana. Takdir merasa perlu memberi 10 catatan kaki untuk puisi itu, terutama untuk arti kata yang dianggap sulit oleh pembaca karena arkhaik.

Laut Dalam Puisi Isbedy Stiawan ZS

Peresensi Buku: M. Arman AZ
Judul buku: Perahu di Atas Sajadah (kumpulan puisi islami)
Pengarang: Isbedy Stiawan ZS
Penerbit: Bukupop, Jakarta
Cetakan: Oktober 2006
Halaman: xii + 84 hlm.
http://www.suarakarya-online.com/

Di awal tahun 1980-an, pemikiran sufisme menjadi tren dalam dunia perpuisian Indonesia. Puisi-puisi sufistik di masa itu ditandai dengan banyaknya “penyair-penyair sufi” seperti Abdul Hadi WM, Acep Zamzam Noor, Ahmadun Yosi Herfanda, Jamal D. Rahman, Soni Farid Maulana, Isbedy Stiawan ZS, Mathori A. Elwa dan lainnya.

Zaman berubah dan dua dekade telah berlalu dari era sastra sufistik tersebut. Dari sejumlah nama penyair yang berada dalam gerbong sastra sufistik itu, salah satu yang masih setia bertahan dan tetap produktif hingga kini adalah Isbedy Stiawan ZS. Nyaris setiap minggu puisi atau cerpennya muncul di rubrik sastra media massa nasional dan daerah.

Pada perkembangannya, puisi-puisi Isbedy sepanjang tahun 90-an melepaskan diri dari label atau tren sufistik tahun 80-an. Puisi-puisinya sepanjang tahun 90-an jauh lebih padat, liat, dan sesekali terselip nuansa erotik. Kemudian, tahun 2000-an, puisi-puisi Isbedy cenderung bertipografi pendek-pendek, lebih “cair”, dan “mudah ditafsir”. Namun apalah arti bentuk atau ruangan; bukankah yang bermakna adalah isinya? Yang tak berubah dalam isi puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS adalah dominasi gaya ungkap naratifnya. Dari sinilah kemudian tercipta narasi liris, terjalin dialog tak langsung dari aku-lirik, oleh aku-lirik, dan untuk aku-lirik.

Oktober 2006, Isbedy Stiawan ZS kembali meluncurkan buku kumpulan puisinya berjudul “Perahu di Atas Sajadah”. Yang membuat buku ini sedikit berbeda, selain langkanya penerbit yang berani menerbitkan kumpulan puisi, seluruh puisi yang terangkum dalam buku ini adalah puisi islami (saya lebih suka menyebutnya puisi religius).

Apakah Perahu di Atas Sajadah ini merupakan buah dari klangenan Isbedy pada era puisi sifistik tahun 80-an? Dalam pengantar buku ini, Isbedy memaparkan secara singkat bahwa meskipun puisi-puisinya mengikuti fenomena yang terus berubah, namun dia mengakui masih rindu mengekspresikan “kerinduan Illahi” ke dalam puisi-puisinya.

Buku kumpulan puisi religius ini dipilah menjadi dua bagian, yaitu “Perahu” dan “Di Atas Sajadah”. Cermatilah semua puisi yang ada di bagian “Perahu”. Jika jeli, kita akan memergoki kata “laut” dalam setiap puisi, bahkan di setiap halamannya. Rasanya kurang tepat jika ini disebut suatu kebetulan atau kesengajaan. Sebab jika menengok kembali beberapa kumpulan puisi Isbedy sebelumnya (Aku Tandai Tahi Lalatmu, Menampar Angin, Kota Cahaya, Salamku Pada Malam), kita juga akan menemukan banyak kata serupa.

Tanda (berupa benda, tempat, setting ruang, dan waktu) menjadi ciri khas puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS, sastrawan yang lahir dan besar di Lampung ini. Namun semua tanda itu bukan menjadi sekedar latar atau sesuai dengan arti referensialnya saja. Tanda-tanda itu, dalam puisi Isbedy, telah mengandung gagasan, makna, atau citraan baru, yang tentu saja memerlukan tafsir baru untuk menangkap pesan yang tersembunyi didalamnya.

Lantas, mengapa laut yang mendominasi puisi-puisi Isbedy? Mungkin kita dapat secuil petunjuk dari beberapa puisi dalam buku ini: Laut telah lahir dalam tubuhku/ini waktu aku mesti memasuki gemuruh ombakmu/malam yang lengang parasmu yang selalu kukenang/dimana kulabuhkan rinduku ini? (Laut Lahir Dalam Tubuhku). Atau bisa juga ditemukan petunjuk lain, seperti: Hanya pada keluasan laut/aku bisa tahu batas pantai/maka kularungi perahu dalam diri/menyerpihi badai demi badai (Perahu Meninggalkan Pantai). Laut dan segala yang berkaitan dengannya (pantai, ombak, perahu, dermaga, mercu suar) menjadi semacam clue (penanda/petunjuk) dalam mayoritas puisi-puisi Isbedy. Barangkali kerinduan Illahi yang coba di jelaskan Isbedy itu pun bisa kita temukan dalam puisinya: Engkau maha-laut/bagiku berlayar/malam malam (Perahu Meninggalkan Pantai).

Kumpulan puisi Perahu di Atas Sajadah ini memuat 35 puisi Isbedy yang dibuatnya selama dua dekade terakhir (1980-2000an). Ada dua puisi yang lumayan panjang, yaitu Khalwat (I-XXX) dan Perahu Meninggalkan Pantai (1-10). Usai ber-”Perahu di Atas Sajadah”, awal tahun 2007 Isbedy akan meluncurkan dua buku puisi lagi, yaitu “Lelaki yang Membawa Matahari” dan “Laut Akhir”. Ah, lagi-lagi laut.

Isbedy seakan tak kehabisan energi untuk menafsirkan laut ke dalam puisi-puisinya. Entah itu laut dalam makna fisik ataupun dalam makna batin. Seperti perahu yang merindukan dermaga, seperti ombak yang tak letih mencari pantai, mungkin begitulah Isbedy dan ihwal “laut”-nya. Sebagaimana tertulis dalam bait berikut: Bahkan sudah/berkali kuinjak pantai/belum juga kukenal/warna pasir/rasa pantai (Belum Kukenal Warna Pantai).

Sampai kapan Isbedy akan menjadikan laut sebagai rajah dalam puisi-puisinya? Hanya dia sendiri yang tahu, sebagaimana yang dia tuliskan: Pelaut sejati/tahu kapan mati/seperti puisi/sembunyikan arti (Seperti Pelaut). ***

—–
M Arman AZ lahir di Telukbetung, 30 Mei 1977. Menulis Cerpen, cerita anak, esai dan resensi di Lampung Post, Trans Sumatera, Republika, Kompas, Hai, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, Nova, Suara Karya, Sinar Harapan, Annida, Kartini, Riau Post, Majalah Sastra Tepak (Riau), dan majalah Sastra Horison. Kini berdomisili di Jalan Hasanudin No 42/74, Telukbetung, Bandarlampung - 35211.

Laut Dalam Puisi Isbedy Stiawan ZS

Peresensi Buku: M. Arman AZ
Judul buku: Perahu di Atas Sajadah (kumpulan puisi islami)
Pengarang: Isbedy Stiawan ZS
Penerbit: Bukupop, Jakarta
Cetakan: Oktober 2006
Halaman: xii + 84 hlm.
http://www.suarakarya-online.com/

Di awal tahun 1980-an, pemikiran sufisme menjadi tren dalam dunia perpuisian Indonesia. Puisi-puisi sufistik di masa itu ditandai dengan banyaknya “penyair-penyair sufi” seperti Abdul Hadi WM, Acep Zamzam Noor, Ahmadun Yosi Herfanda, Jamal D. Rahman, Soni Farid Maulana, Isbedy Stiawan ZS, Mathori A. Elwa dan lainnya.

Zaman berubah dan dua dekade telah berlalu dari era sastra sufistik tersebut. Dari sejumlah nama penyair yang berada dalam gerbong sastra sufistik itu, salah satu yang masih setia bertahan dan tetap produktif hingga kini adalah Isbedy Stiawan ZS. Nyaris setiap minggu puisi atau cerpennya muncul di rubrik sastra media massa nasional dan daerah.

Pada perkembangannya, puisi-puisi Isbedy sepanjang tahun 90-an melepaskan diri dari label atau tren sufistik tahun 80-an. Puisi-puisinya sepanjang tahun 90-an jauh lebih padat, liat, dan sesekali terselip nuansa erotik. Kemudian, tahun 2000-an, puisi-puisi Isbedy cenderung bertipografi pendek-pendek, lebih “cair”, dan “mudah ditafsir”. Namun apalah arti bentuk atau ruangan; bukankah yang bermakna adalah isinya? Yang tak berubah dalam isi puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS adalah dominasi gaya ungkap naratifnya. Dari sinilah kemudian tercipta narasi liris, terjalin dialog tak langsung dari aku-lirik, oleh aku-lirik, dan untuk aku-lirik.

Oktober 2006, Isbedy Stiawan ZS kembali meluncurkan buku kumpulan puisinya berjudul “Perahu di Atas Sajadah”. Yang membuat buku ini sedikit berbeda, selain langkanya penerbit yang berani menerbitkan kumpulan puisi, seluruh puisi yang terangkum dalam buku ini adalah puisi islami (saya lebih suka menyebutnya puisi religius).

Apakah Perahu di Atas Sajadah ini merupakan buah dari klangenan Isbedy pada era puisi sifistik tahun 80-an? Dalam pengantar buku ini, Isbedy memaparkan secara singkat bahwa meskipun puisi-puisinya mengikuti fenomena yang terus berubah, namun dia mengakui masih rindu mengekspresikan “kerinduan Illahi” ke dalam puisi-puisinya.

Buku kumpulan puisi religius ini dipilah menjadi dua bagian, yaitu “Perahu” dan “Di Atas Sajadah”. Cermatilah semua puisi yang ada di bagian “Perahu”. Jika jeli, kita akan memergoki kata “laut” dalam setiap puisi, bahkan di setiap halamannya. Rasanya kurang tepat jika ini disebut suatu kebetulan atau kesengajaan. Sebab jika menengok kembali beberapa kumpulan puisi Isbedy sebelumnya (Aku Tandai Tahi Lalatmu, Menampar Angin, Kota Cahaya, Salamku Pada Malam), kita juga akan menemukan banyak kata serupa.

Tanda (berupa benda, tempat, setting ruang, dan waktu) menjadi ciri khas puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS, sastrawan yang lahir dan besar di Lampung ini. Namun semua tanda itu bukan menjadi sekedar latar atau sesuai dengan arti referensialnya saja. Tanda-tanda itu, dalam puisi Isbedy, telah mengandung gagasan, makna, atau citraan baru, yang tentu saja memerlukan tafsir baru untuk menangkap pesan yang tersembunyi didalamnya.

Lantas, mengapa laut yang mendominasi puisi-puisi Isbedy? Mungkin kita dapat secuil petunjuk dari beberapa puisi dalam buku ini: Laut telah lahir dalam tubuhku/ini waktu aku mesti memasuki gemuruh ombakmu/malam yang lengang parasmu yang selalu kukenang/dimana kulabuhkan rinduku ini? (Laut Lahir Dalam Tubuhku). Atau bisa juga ditemukan petunjuk lain, seperti: Hanya pada keluasan laut/aku bisa tahu batas pantai/maka kularungi perahu dalam diri/menyerpihi badai demi badai (Perahu Meninggalkan Pantai). Laut dan segala yang berkaitan dengannya (pantai, ombak, perahu, dermaga, mercu suar) menjadi semacam clue (penanda/petunjuk) dalam mayoritas puisi-puisi Isbedy. Barangkali kerinduan Illahi yang coba di jelaskan Isbedy itu pun bisa kita temukan dalam puisinya: Engkau maha-laut/bagiku berlayar/malam malam (Perahu Meninggalkan Pantai).

Kumpulan puisi Perahu di Atas Sajadah ini memuat 35 puisi Isbedy yang dibuatnya selama dua dekade terakhir (1980-2000an). Ada dua puisi yang lumayan panjang, yaitu Khalwat (I-XXX) dan Perahu Meninggalkan Pantai (1-10). Usai ber-”Perahu di Atas Sajadah”, awal tahun 2007 Isbedy akan meluncurkan dua buku puisi lagi, yaitu “Lelaki yang Membawa Matahari” dan “Laut Akhir”. Ah, lagi-lagi laut.

Isbedy seakan tak kehabisan energi untuk menafsirkan laut ke dalam puisi-puisinya. Entah itu laut dalam makna fisik ataupun dalam makna batin. Seperti perahu yang merindukan dermaga, seperti ombak yang tak letih mencari pantai, mungkin begitulah Isbedy dan ihwal “laut”-nya. Sebagaimana tertulis dalam bait berikut: Bahkan sudah/berkali kuinjak pantai/belum juga kukenal/warna pasir/rasa pantai (Belum Kukenal Warna Pantai).

Sampai kapan Isbedy akan menjadikan laut sebagai rajah dalam puisi-puisinya? Hanya dia sendiri yang tahu, sebagaimana yang dia tuliskan: Pelaut sejati/tahu kapan mati/seperti puisi/sembunyikan arti (Seperti Pelaut). ***

—–
M Arman AZ lahir di Telukbetung, 30 Mei 1977. Menulis Cerpen, cerita anak, esai dan resensi di Lampung Post, Trans Sumatera, Republika, Kompas, Hai, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, Nova, Suara Karya, Sinar Harapan, Annida, Kartini, Riau Post, Majalah Sastra Tepak (Riau), dan majalah Sastra Horison. Kini berdomisili di Jalan Hasanudin No 42/74, Telukbetung, Bandarlampung - 35211.

Mencari tuhan di baitil ka’bah

SASTRA SUFI SEBUAH ANTOLOGI
Penyunting: Abdul Hadi WM Penerbit:
Pustaka Firdaus, Jakarta, 1985, 300 halaman
Peresensi: Danarto
http://majalah.tempointeraktif.com/

SEORANG bangsawan tergopoh gopoh mendatangi Nabi Sulaiman. Ia bercerita bahwa Malaikat Maut mendatanginya, dan dengan mata yang mencereng mengawasinya penuh kebencian dan amarah.

“Lalu, apa yang bisa saya bantu?” tanya Nabi Sulaiman. “Oh, pelindung hidupku,” sahut bangsawan itu, “perintahkan angin supaya menerbangkan aku ke India.”

Nabi Sulaiman yang waskita dan digdaya itu, yang dapat berbicara dan memerintah segala makhluk, lalu memerintahkan angin untuk menerbangkan bangsawan tersebut melintasi lautan dan mendaratkannya dengan empuk di pedalaman India.

Keesokan harinya, ketika sidang pleno, Nabi Sulaiman menanyakan kepada Izrail, Malaikat Maut itu, kalau memang mau mencabut nyawa bangsawan tersebut, kenapa tidak lekas-lekas saja. Tak usah memandang dengan menakutkan segala. Malaikat Maut lalu bertutur kepada Nabi Sulaiman bahwa ia memang harus menakut-nakuti bangsawan itu terlebih dulu, supaya ia ngacir cepat-cepat dan jauh. “Dalam daftar, bangsawan itu memang harus mati di India,” ujar Izrail. Karya Jalaluddin Rumi (1207-1270) itu dikutip dalam antologi ini, di samping karya-karya sufi besar lainnya: Bayazid, Al-Hallaj, Al-Hujwiri, Arabi, Junaid, Attar, Hafiz, Khayyam, Rabiah, Sana’i, Sa’di, Iqbal jumlahnya lebih dari 30 tokoh.

Sastra sufi, baik prosa maupun puisi, selalu dapat menohok secara tepat, lewat perlambang, nasihat, pandangan, juga dongeng. Bahkan karya yang paling sederhana pun mengatasi zamannya. Sebuah karya yang lahir seribu tahun yang lalu dapat mengajak pembaca sekarang untuk hidup di zaman baheula itu. Yang luar biasa dari semuanya itu adalah kemampuan melukiskan Tuhan.

Sebagaimana sikap hidup mereka, para sufi juga berhemat di dalam mengekspresikan dirinya. Dan kesusastraan mereka menduduki tempat yang utama, ditopang oleh kehematan itu, selembar kertas dengan sebatang pensil. Sebatang pensil jika Ia Tuhan, selembar kertas jika ia makhluk, maka lengkaplah keterangan itu: pada mulanya Allah bertolak dari tulis-menulis itu. Tak ada yang begitu lebih murah penyelenggaraan sebuah kesenian kecuali dengan selembar kertas dan sebatang pensil.

Karya-karya sufi Indonesia - Hamzah Fansuri, Bukhari Al-Jauhari, Raja Ali Haji, Yasadipura I, Yasadipura II, dan Amir Hamzah - ikut hadir di sini. Yang unik bahwa warna lokal kalah oleh kekuatan tradisi kesufian. Jika seorang sufi tidak hanya pasrah melainkan dapat pula menonjolkan diri, maka sifat yang terakhir ini dapat pula muncul dalam pribadi sufi kita. Jika Hafiz (1326–1390), sufi Persia, menulis:

Tuhan, Hafiz rindu pada-Mu Lebih dari Nabi Sulaiman Hafiz rindu pada-Mu walau tangannya Tak mendapat apa-apa kecuali angin Hafiz rindu pada-Mu maka sufi Aceh Hamzah Fansuri (pertengahan abad ke-16 sampai perempat awal abad ke-l7), menulis: Hamzah Fansuri di dalam Mekah Mencari Tuhan di Baitil Ka’bah Dan Barus ke Kudus terlalu payah Akhirnya dijumpa di dalam rumah

Dewasa ini buku-buku sufisme mengalir seperti hidangan perhelatan. Bahkan ada dua penerbit yang mengedarkan buku yang sama. Sesungguhnya apa yang sedang terjadi? Apakah sufisme sedang bangkit di Tanah Air? Boleh jadi kecenderungan sufistik sedang menyemarak di dalam sastra Indonesia. Namun, sesungguhnya sufisme, dan lebih-lebih sastra sufistik, asing di dalam masyarakat kita.

Untuk penerbitan selanjutnya, antologi ini masih dapat dikembangkan, mengingat masih ada sejumlah tokoh-tokoh sufi yang belum masuk.